Sabtu, 27 Agustus 2011

Kontribusi Pengelolaan Objek Wisata Tanah Lot



Pembagian kontribusi ini sebenarnya bagian kecil dari konsep besar dari pengelolaan Obyek Wisata Tanah Lot. Kontribusi pendapatan merupakan aspek finansial yang ingin dicapai untuk dapat di nikmati oleh para pihak yang menerima hasil dari pengelolaan Obyek Wisata Tanah Lot. Pendapatan finansial ini dimaksudkan untuk bisa dimanfaatkan oleh para pihak untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama meningkatkan kualitas hidup masyarakat, dan tentunya yang utama saat ini dibutuhkan adalah segala hal-hal yang berkaitan dengan peningkatan sektor pariwisata yang berwawasan Budaya. Kontribusi pendapatan dari Obyek Wisata Tanah Lot ini diharapkan mampu menjaga kearifan lokal yang ada dimasyarakat yang merupakan daya tarik utama Pariwisata Bali. Dengan terjaganya budaya masyarakat maka continuitas pariwisata Bali akan berjalan sesuai yang diharapkan bersama. Sehingga diharapkan penerimaan kontribusi pendapatan yang didapat dari hasil pengelolaan Obyek Wisata Tanah Lot bisa dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk pengembangan masyarakat yang berwawasan pariwisata Budaya yang telah dicanangkan oleh Pemerintah Propinsi Bali.
Konsep besar pengelolaan Obyek Wisata Tanah Lot adalah: Melestarikan, Menggali dan Mengembangkan Potensi Obyek Wisata Tanah Lot yang berlandaskan pariwisata pariwisata Budaya dan Tri Hita Karana, menuju pengelolaan yang profesional. Dengan konsep besar ini sudah kelihatan bahwa hal yang ingin dicapai dalam pengelolaan Obyek Wisata Tanah Lot jauh lebih besar dari hanya sekedar untuk mendapatkan aspek finansial saja. Sebab Aspek finansial ini sebenarnya hanya merupakan aspek konsekuensi positif dari konsep besar yang ingin di capai dari Pengelolaan Obyek Wisata Tanah Lot ini. Dengan pola pengelolaan Obyek yang profesional di bidang pelayanan, memelihara dan mengedepankan kelestarian budaya yang ada, serta menjaga keseimbangan lingkungan, maka tingkat kunjungan wisatawan yang datang Ke Obyek Wisata Tanah Lot akan terus terjaga (sustainablelity of tourism).
Pada dasarnya semangat yang diusung dalam konsep Besar pengelolaan Obyek Wisata Tanah Lot ini adalah ; lebih kepada Proteksi terhadap nilai-nilai budaya yang luhur yang ada pada kawasan Objek ini, baik itu dilihat dari peninggalan sejarah berupa infrastruktur, maupun pada nilai-nilai luhur yang ada pada budaya masyarakat sekitar yang saat ini masih secara turun temurun di anut dan dilaksanakan oleh masyarakat lokal (Local Genius). Hal ini merupakan sebuah semangat luhur dalam upaya kita untuk menjaga eksistensi budaya Bali yang justru budaya inilah yang merupakan kekuatan Bali dimata wisatawan yang ingin berkunjung ke Bali. Artinya sepanjang kita mampu menjaga eksistensi budaya masyarakat di Tanah Lot, memberikan pelayanan yang baik kepada wisatawan, maka akan terjadi pengembangan pariwisata Tanah Lot yang berkelanjutan . Sejalan dengan hal tersebut maka ini akan berkolerasi yang significant juga terhadap penerimaan aspek finansial tadi.
  Tanah Lot saat ini pada posisi yang terus mengalami peningkatan positip dalam berbagai hal. Peningkatan ini bisa dilihat dari berbagai aspek baik itu kwalitas penantaan objek dan manajemen pelayanan, mupun kwantitas peningkatan kedatangan wisatawan. Kedua hal ini merupakan dua aspek yang saling berkait erat dimana seirama dengan peningkatan kualitas obyek maka tingkat kuantitas kunjungan juga semakin banyak. Begitu pula dengan terus meningkatnya kuantitas tingkat kunjungan, diharapkan menghasilkan tingkat pendapatan yang meningkat, dimana dari hasil pendapatan ini akan dipergunakan untuk meningkatkan kualitas Obyek Wisata Tanah Lot berikutnya. Dan ini diharapkan akan terus bergulir seperti itu seterusnya. Hal ini diciptakan dalam upaya kita menjaga continuitas Obyek Wisata kedepannya dan mencegah para pihak menjadikan Obyek Wisata Tanah Lot ini bagai sapi perahan saja. Dengan pola ini maka kedepannya Obyek Wisata Tanah Lot ini akan tetap terjaga kelestariannya, tentunya juga akan terus terjamin akan keuntungan yang dihasilkannya.
Mengelola Obyek Wisata Tanah Lot ini membutuhkan sebuah wawasan yang cukup luas dan futuristik. Hal ini dikarenakan dalam kawasan Obyek Wisata ini terdapat tiga unsur besar yang harus di Manage dengan teliti. Unsur pertama ; bahwa Tanah lot merupakan lingkungan suci pura yang merupakan salah satu pusat kegitatan ritual umat Hindu, yang mana memiliki resistensi tinggi terhadap kegiatan kepariwisataan. Sedangkan justru ini merupakan daya tariknya kaum wisatawan untuk datang. Kegiatan budaya masyarakat dalam menjalankan kegiatannya (Life Cultural) di Obyek Wisata Tanah Lot ini merupakan daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin menyaksikan langsung bagaiman umat Hindu Bali melakukan kegiatan ritualnya. Dan faktor ini adalah merupakan salah satu motivasi wisatawan berkunjung ke Obyek Wisata Tanah Lot ini.
Unsur yang kedua; memberikan pelayan yang memuaskan kepada wisatawan Dengan homogennya wisatawan yang datang ke Obyek Wisata Tanah Lot,dituntut kita memahami perilaku wisatawan dalam upaya memberikan pelayanan yang customize. Diantara tingginya tingkat kunjungan wisatawan yang datang ini tidak seluruhya memahami kaedah-kaedah budaya yang berlaku di wilayah yang mereka kunjungi. Tentunya di Tanah Lot hal ini secara teknis kita harus bisa menjebatani kedua kepentingan ini. Dimana yang utama bagaimana uamat Hindu didalam menjalankan kegiatan ritualnya tidak terganngu oleh tingginya tingkat kunjungan wisatawan, serta situs-situs sakral yang ada di lingkungan objek wisata ini tetap terjaga kelestarian dan kesuciannya, sedangkan di satu sisi kita harus mampu memberikan dan menyajikan pelayanan kepada wisatawan agar bisa memenuhi keinginan mereka ke Tanah Lot. Singkatnya, bagaimana Umat tidak terganggu menjalankan budayanya dan wisatawan tetap merasa senang .
Unsur yang ketiga, bahwa keberadaan Obyek Wisata Tanah Lot ini tidak bisa di lepaskan oleh masyarakat sekitar yang menjadi pendukung utama dari keberadaan objek itu sendri. Dengan adanya kegiatan kepariwisataan di Obyek Wisata Tanah Lot saat ini selayaknya masyarakat sekitar juga ikut menikmati kenikmatan hasil dari keberadaan Obyek Wisata tersebut, yang dalam tulisan ini kita sebut kontribusi. Kontribusi atau hasil ini bisa saja berbentuk dalam berbagai bentuk. Bisa berbentuk langsung dan tidak langsung kepada masyarakat. Intinya masyarakat sekitar juga harus di untungkan. Hal ini akan mampu menumbuh kembangkan rasa memiliki pada masyarakat sehingga fungi control atau pengawasan dari masyarakat akan tercipta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar